Kamis, 27 November 2014

Hospitalisasi Anak


HOSPITALISASI PADA ANAK


PENGERTIAN
Hospitalisasi adalah masuknya seorang penderita ke dalam Rumah Sakit atau masa selama  di Rumah Sakit itu (Dorland, 1996).
Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi setiap orang.Khususnya hospitalisasi pada anak merupakan stressor baik terhadap anak itu sendiri maupun terhadap keluarga.Stres pada anak disebabkan karena mereka tidak mengerti mengapa mereka dirawat atau mengapa mereka terluka.Lingkungan yang asing, kebiasaan-kebiasaan yang berbeda, perpisahan dengan keluarga merupakan pengalaman yang dapat mempengaruhi perkembangan anak. Stres akibat Hospitalisasi akan menimbulkan perasaan tidak nyaman baik pada anak maupun pada keluarga, hal ini akan memacu anak untuk menggunakan mekanisme koping dalam menangani  stress. Jika anak tidak mampu menangani stress dapat berkembang menjadi krisis.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB STRES HOSPITALISASI PADA ANAK

Beberapa faktor yang menyebabkan stres akibat hospitalisasi pada anak adalah :
1.      Lingkungan
Saat dirawat di Rumah Sakit klien akan mengalami lingkungan yang baru bagi dirinya dan hal ini akan mengakibatkan stress pada anak.
2.      Berpisah dengan Keluarga
Klien yang dirawat di Rumah Sakit akan merasa sendiri dan kesepian, jauh dari keluarga dan suasana rumah yang akrab dan harmonis.
3.      Kurang Informasi
Anak akan merasa takut karena dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh perawat atau dokter. Anak tidak tahu tentang penyakitnya dan kuatir akan akibat yang mungkin timbul karena penyakitnya.
4.      Masalah Pengobatan
Anak takut akan prosedur pengobatan yang akan dilakukan, karena anak merasa bahwa pengobatan yang akan diberikan itu akan menyakitkan.
Dengan mengerti kebutuhan anak sesuai dengan tahap perkembangannya dan mampu memenuhi kebutuhan tersebut, perawat dapat mengurangi stress akibat hospitalisasi dan dapat meningkatkan perkembangan anak kearah yang normal.(Whaley & Wong’s, 1999).

FAKTOR RESIKO YANG MENINGKATKAN ANAK LEKAS TERSINGGUNG PADA STRES HOSPITALISASI
1.      Temperamen yang sulit
2.      Ketidakcocokan antara  anak dengan orang tua
3.      Usia antara 6 bulan – 5 tahun
4.      Anak dengan jenis kelamin laki-laki
5.      Intelegensi dibawah rata-rata
6.      Stres yang berkali-kali dan terus-manerus.
(Whaley & Wong’s, 1999)

REAKSI-REAKSI SAAT HOSPITALISASI ( SAAT DI R.S )  SESUAI DENGAN PERKEMBANGAN ANAK

1.      Bayi (0-1 tahun)
Bila bayi  berpisah dengan orang tua, maka pembentukan rasa percaya dan pembinaan kasih sayangnya terganggu.
Pada bayi usia 6 bulan sulit untuk memahami secara maksimal bagaimana reaksi bayi bila dirawat, Karena bayi belum dapat mengungkapkan apa yang dirasakannya. Sedangkan pada bayi dengan usia yang lebih dari 6 bulan, akan banyak menunjukkan perubahan.
Pada bayi usia 8 bulan atau lebih telah mengenal ibunya sebagai orang yang berbeda-beda dengan dirinya, sehingga akan terjadi “Stranger Anxiety” (cemas pada orang yang tidak dikenal), sehingga bayi akan menolak orang baru yang belum dikenal. Kecemasan ini dimanifestasikan dengan meanagis, marah dan pergerakan yang berlebihan.Disamping itu  bayi juga telah merasa memiliki ibunya ibunya, sehingga jika berpisah dengan ibunya akan menimbulkan “Separation Anxiety” (cemas akan berpisah). Hal ini akan kelihatan jika bayi ditinggalkan oleh ibunya, maka akan menangis sejadi-jadinya, melekat dan sangat tergantung dengan kuat.

2.      Toddler (1-3 tahun)
Toddler belum mampu berkomunikasi dengan menggunkan bahasa yang memadai dan pengertian terhadap realita terbatas. Hubungan anak dengan ibu sangat dekat sehingga perpisahan dengan ibu akan menimbulkan rasa kehilangan orang yang terdekat bagi diri anak dan lingkungan yang dikenal serta akan mengakibatkan perasaan tidak aman dan rasa cemas. Disebutkan bahwa sumber stress utama pada anak yaitu akibat perpisahan (usia 15-30 bulan). Anxietas perpisahan disebut juga “Analitic Depression”
Respon perilaku anak akibat perpisahn dibagi dalam 3 tahap, yaitu :
·        Tahap Protes (Protest)
Pada tahap ini dimanifestasikan dengan menangis kuat, menjerit dan memanggil ibunya atau menggunakan tingkah laku agresif agar orang lain tahu bahwa ia tidak ingin ditinggalkan orang tuanya serta menolak perhatian orang lain.
·        Tahap Putus Asa (Despair)
Pada tahap ini anak tampak tenang, menangis berkurang, tidak aktif, kurang minat untuk bermain, tidak nafsu makan, menarik diri, sedih dan apatis.
·        Tahap menolak (Denial/Detachment)
Pada tahap ini secara samar-samar anak menerima perpisahan, membina hubungan dangkal dengan orang lain serta kelihatan mulai menyukai lingkungan.
Toddler telah mampu menunjukkan kestabilan dalam mengontrol dirinya dengan mempertahankan kegiatan rutin seperti makan, tidur, mandi, toileting dan bermain. Akibat sakit dan dirawat di Rumah Sakit, anak  akan kehilangan kebebasan dan pandangan egosentrisnya dalam mengembangkan otonominya. Hal ini akan menimbulkan regresi. Ketergantungan merupakan karakteristik dari peran sakit. Anak akan bereaksi terhadap ketergantungan dengan negatifistik dan agresif. Jika terjadi ketergantungan dalam jangka waktu lama (karena penyakit kronik) maka anak akan berespon dengan menarik diri dari hubungan interpersonal.

3.      Pra Sekolah (3-6 tahun)
Anak usia Pra Sekolah telah dapat menerima perpisahan dengan orang tuannya dan anak juga dapat membentuk rasa percaya dengan orang lain. Walaupun demikian anak tetap membutuhkan perlindungan dari keluarganya. Akibat perpisahan akan menimbulkan reaksi seperti : menolak makan, menangis pelan-pelan, sering bertanya misalnya : kapan orang tuanya berkunjung, tidak kooperatif terhadap aktifitas sehari-hari.
Kehilangan kontrol terjadi karena adanya pembatasan aktifitas sehari-hari dan karena kehilangan kekuatan diri.Anak pra sekolah membayangkan bahwa dirawat di rumah sakit merupakan suatu hukuman, dipisahkan, merasa tidak aman dan kemandiriannya dihambat. Anak akan berespon dengan perasaan malu, bersalah dan takut.
Anak usia pra sekolah sangat memperhatikan penampilan dan fungsi tubuh. Mereka menjadi ingin tahu dan bingung melihat seseorang dengan gangguan penglihatan atau keadaan tidak normal.
Pada usia ini anak merasa takut bila mengalami perlukaan, anak memgangap bahwa tindakan dan prosedur mengancam integritas tubuhnya. Anak akan bereaksi dengan agresif, ekspresif verbal dan depandensi.
Disamping itu anak juga akan menangis, bingung, khususnya bila keluar darah dari tubuhnya. Maka sulit bagi anak untuk percaya bahwa infeksi, mengukur tekanan darah, mengukur suhu perrektal dan prosedur tindakan lainnya tidak akan menimbulkan perlukaan.

4.      Sekolah (6-12 tahun)
Anak usia sekolah yang dirawat di rumah sakit akan merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya, takut kehilangan ketrampilan, merasa kesepian dan sendiri. Anak membutuhkan rasa aman dan perlindungan dari orang tua namun tidak memerlukan selalu ditemani oleh orang tuanya.
Pada usia ini anak berusaha independen dan produktif. Akibat dirawat di rumah sakit menyebabkan perasaan kehilangan kontrol dan kekuatan. Hal ini terjadi karena adanya  perubahan dalam peran, kelemahan fisik, takut mati dan kehilangan kegiatan dalam kelompok serta akibat kegiatan rutin rumah sakit seperti bedrest, penggunaan pispot, kurangnya privacy, pemakaian kursi roda, dll.
Anak telah dapat mengekpresikan perasaannya dan mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri. Anak akaqn berusaha mengontrol tingkah laku pada waktu merasa nyeri atau sakit denga cara menggigit bibir atau menggengam sesuatu dengan erat.
Anak ingin tahu alas an tindakan yang dilakukan pada diri9nya, sehingga ia selalu mengamati apa yang dikatakan perawat. Anak akan merasa takut terhadap mati pada waktu tidur.

5.      Remaja (12-18 tahun)
Kecemasan yang timbul pada anak remaja yang dirawat di rumah sakit adalah akibat perpisahan dengan teman-teman sebaya dan kelompok. Anak tidak merasa takut berpisah dengan orang tua akan tetapi takut kehilangan status dan hubungan dengan teman sekelompok. Kecemasan lain disebabkan oleh akibat yang ditimbulkan oleh akibat penyakit fisik, kecacatan serta kurangnya “privacy”.
Sakit dandirawat merupakan ancaman terhadap identitas diri, perkembangan dan kemampuan anak. Reaksi yang timbul bila anak remaja dirawat, ia akan merasa kebebasannya terancam sehingga anak tidak kooperatif, menarik diri, marah atau frustasi.
Remaja sangat cepat mengalami perubahan body image selama perkembangannya. Adanya perubahan dalam body image akibat penyakit atau pembedahan dapat menimbulkan stress atau perasaan tidak aman. Remaja akan berespon dengan banyak bertanya, menarik diri dan menolak orang lain.

REAKSI KELUARGA TERHADAP ANAK YANG SAKIT DAN DIRAWAT DIRUMAH SAKIT

Seriusnya penyakit baik akut atau kronis mempengaruhi tiap anggota dalam keluarga :
1.      Reaksi orang tua
Orang tua akan mengalami stress jika anaknya sakit dan dirawat dirumah sakit. Kecemasan akan meningkat jika mereka kurang informasi tentang prosedur dan pengobatan anak serta dampaknya terhadap masa depan anak. Orang tua bereaksi  dengan tidak percaya terutama jika penyakit ananknya secara tiba-tiba dan serius.
Setelah menyadari tentang keadaan anak, maka mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah, sering menyalahkan diri karena tidak mampu merawat anak sehingga anak menjadi sakit

2.      Reaksi Sibling
Reaksi sibling terhadap anak yang sakit dan dirawat dirumah sakit adalah marah, cemburu, benci dan bersalah.Orang tua seringkali mencurahkan perhatiannya lebih besar terhadap anak yang sakit dibandingkan dengan anak yang sehat. Hal ini akan menimbulkan perasaan cemburu pada anak yang sehat dan anak merasa ditolak.

PERAN PERAWAT DALAM MENGURANGI STRES AKIBAT HOSPITALISASI

Anak dan keluarga membutuhkan perawatan yang kompeten untuk meminimalkan efek negatif dari hospitalisasi. Fokus dari intervensi keperawatan adalah meminimalkan stressor perpisahan, kehilangan kontrol dan perlukaan tubuh atau rasa nyeri pada anak serta memberi support kepada keluarga seperti membantu perkembangan hubungan dalam keluarga dan memberikan informasi :
1.      Mencegah atau meminimalkan dampak dari perpisahan, terutama pada anak usia kurang dari 5 tahun.
·        Rooming In
Yaitu orang tua dan anak tinggal bersama.Jika tidak bisa, sebaiknya orang tua dapat melihat anak setiap saat untuk mempertahankan kontak tau komunikasi antar orang tua dan anak.
·        Partisipasi Orang tua
Orang tua diharapkan dapat berpartisipasi dalam merawat anak yang sakit terutama dalam perawatan yang bisa dilakukan misal : memberikan kesempatan pada orang tua untuk menyiapkan makanan pada anak atau memandikan. Perawat berperan sebagai Health Educator terhadap keluarga.
·        Membuat ruang perawatan seperti situasi di rumah dengan mendekorasi dinding memakai poster atau kartu bergambar sehingga anak merasa aman jika berada diruang tersebut.
·        Membantu anak mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah dengan mendatangkan tutor khusus atau melalui kunjungan teman-teman sekolah, surat menyurat atau melalui telpon.
2.      Mencegah perasaan kehilangan kontrol
·        Physical Restriction (Pembatasan Fisik)
Pembatasan fisik atau imobilisasi pada ekstremitas untuk mempertahankan aliran infus dapat dicegah jika anak kooperatif. Untuk bayi dan toddler, kontak orang tua – anak mempunyai arti penting untuk mengurangi stress akibat restrain. Pada tindakan atau prosedur  yang menimbulkan nyeri, orang tua dipersiapkan untuk membantu, mengobsevasi atau menunggu diluar ruangan. Pada beberapa kasus pasien yang diisolasi, misal luka bakar berat, dengan menempatkan tempat tidur didekat pintu atau jendela, memberi musik, dll.
·        Gangguan dalam memenuhi kegiatan sehari-hari
Respon anak terhadap kehilangan, kegiatan rutinitas dapat dilihat dengan adanya masalah dalam makan, tidur, berpakaian, mandi, toileting dan interaksi social.
Teknik untuk meminimalkan gangguan dalam melakukan kegiatan sehari-hari yaitu dengan “Time Structuring”.
Pendekatan ini sesuai untuk anak usia sekolah dan remaja yang telah mempunyai konsep waktu. Hal ini meliputi pembuatan jadual kegiatan penting bagi perawat dan anak, misal : prosedur pengobatan, latihan, nonton TV, waktu bermain, dll. Jadual tersebut dibuat dengan kesepakatan antara perawat, orang tua dan anak.
3.      Meminimalkan rasa takut terhadap perlakuan tubuh dan rasa nyeri
Persiapan anak terhadap prosedur yang menimbulkan rasa nyeri adalah penting untuk mengurangi ketakutan. Perawat menjelaskan apa yang akan dilakukan, siapa yang dapat ditemui oleh anak jika dia merasa takut, dll. Memanipulasi prosedur juga dapat mengurangi ketakutan akibat perlukaan tubuh, misal : jika anak takut diukur temperaturnya melalui anus, maka dapat dilakukan melalui ketiak atau axilla.
4.      Memaksimalkan manfaat dari hospitalisasi
Walaupun hospitalisasi merupakan stressfull bagi anak dan keluarga, tapi juga membantu memfasilitasi perubahan kearah positif antara anak dan anggota keluarga :
·        Membantu perkembangan hubungan orang tua – anak
Hospitalisasi memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang pertumbuhan dan perkembangan anak. Jika orang tua tahu reaksi anak terhadap stress seperti regresi dan agresif, maka mereka dapat memberi support dan juga akan memperluas pandangan orang tua dalam merawat anak yang sakit.
·        Memberi kesempatan untuk pendidikan
Hospitalisasi memberi kesempatan pada anak dan anggota keluarga belajar tentang tubuh, profesi kesehatan, dll.
·        Meningkatkan Self – Mastery
Pengalaman menghadapi krisis seperti penyakit atau hospitalisasi akan memberi kesempatan untuk self - mastery. Anak pada usianya lebih mudah punya kesempatan untuk mengetest fantasi atau realita.Anak yang usianya lebih besar, punya kesempatan untuk membuat keputusan, tidak tergantung dan percaya diri perawat dan memfasilitasi perasaan self-mastery dengan menekan kemampuan personal anak.
·        Memberi kesempatan untuk sosialisasi
Jika anak yang dirawat dalam satu ruangan usianya sebaya maka akan membantu anak untuk belajar tentang diri mereka. Sosialisasi juga dapat dilakukan dengan team kesehatan se3lain itu orang tua juga memperoleh kelompok social baru dengan orang tua anak yang punya masalah yang sama.
5.      Memberi support pada anggota keluarga
Perawat dapat mendiskusikan dengan keluarga tentang kebutuhan anak, membantu orang tua. Mengidentifikasi alas an spesifik dari  perasaan dan responnya terhadap stress memberi kesempatan kepada orang tua untuk mengurangi beban emosinya.
·        Memberi Informasi
Salah satu intervensi keperawatan yang penting adalah memberikan informasi sehubungan dengan penyakit, pengobatan, serta prognosa, reaksi emosional anak terhadap sakit dan dirawat, serta reaksi emosional anggota keluarga terhadap anak yang sakit dan dirawat.
·        Melibatkan Sibling
Keterlibatan sibling sangat penting untuk mengurangi stress pada anak. Misalnya keterlibatan dalam program rumah sakit (kelompok bermain), mengunjungi saudara yang sakit secara teratur, dll.


KESIMPULAN

Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi setiap orang.Khususnya hospitalisasi pada anak merupakan stressor baik terhadap anak itu sendiri maupun terhadap keluarga.Stres pada anak disebabkan karena mereka tidak mengerti mengapa mereka dirawat atau mengapa mereka terluka.Lingkungan yang asing, kebiasaan-kebiasaan yang berbeda, perpisahan dengan keluarga merupakan pengalaman yang dapat mempengaruhi perkembangan anak.Oleh karena itu anak dan keluarga membutuhkan perawatan yang kompeten untuk meminimalkan efek negatif dari hospitalisasi. Fokus dari intervensi keperawatan adalah meminimalkan stressor perpisahan, kehilangan kontrol dan perlukaan tubuh atau rasa nyeri pada anak serta memberi support kepada keluarga seperti membantu perkembangan hubungan dalam keluarga dan memberikan informasi sehingga masalah /dampak akibat hospitalisasi bias diminmalkan.

Konsep Anak Sehat


KONSEP DASAR KEPERAWATAN ANAK

PENGERTIAN
Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah menikah/kawin.Batasan ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan usaha kesejahteraan sosial, kematangan pribadi dan kematangan mental seseorang yang dicapai pada umur 21 tahun.Anak merupakan potensi serta penerus cita –cita bangsa yang dasar-dasarnya telah diletakkan generasi sebelumnya. Oleh karena itu anak harus mendapat perhatian  yang sempurna dalam memenuhi perkembangan dan pertumbuhan baik fisik maupun mental sejak dini.
TUJUAN:
  1. Menurunkan angka kematian anak
  2. Menurunkan angka kesakitan anak
  3. Menurunkan angka kematian atau kesakitan prasekolah atau remaja.


RUANG LINGKUP
  1. Pediatric klinik, terdiri dari penyakit, pengobatan dan perawatan
  2. Peditric pencegahan : imunisasi
  3. Pediatric sosial
o       Mempelajari dan melaksanakan cara agar anak sehat fisik, psikis dan sosial
o       Kebutuhan anak yang harus dipenuhi sejak konsepsi, supaya mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang baik
o       Lingkungan yang sejahtera dan bahagia ( harmonis
o       Sandang , pangan dan papan
o       Lingkungan tempat tingggal yang baik (Lokasi WTS, judi, mabuk dan preman)

FILOSOFI KEPERAWATAN ANAK
Filosofi adalah merupakan pandangan atau keyakinan yang dimiliki perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada anak .Keperawatan anak adalah konsisten dengan pengertian keperawatan “ the diagnosis and treatment of human respones to actual or potential health problems( whaley & wong,1995, hal 14).
Tujuannya adalah pencapaian derajat kesehatan bagi anak sebagai suatu bagian dari sistem pelayanan kesehatan  di keluarga. Untuk menekankan pada tujuan tersebut.Pada bagian ini akan diuraikan kunci filosofi keperawatan anak:
1.      Family center care
Filosofi ini memperkenalkan keluarga sebagai suatu kehidupan yang konstan dan seorang individu yang mendukung, menghargai dan meningkatkan kekuatan dan kompetensi dalam memberikan asuhan terhadap anak (Johson, 1989).Hal ini menjelaskan bahwa Keluarga merupakan unsur penting dalam merawat anak, mengingat anak adalah bagian dari keluarga.Sebagai perawat, dalam memberikan pelayanan keperawatan pada anak, harus mampu menfasilitasi keluarga dalam berbagai bentuk pelayanan kesehatan baik berupa pemberian tindakan keperawatan maupun pemberian penyuluhan kesehatan.
Ada 2 konsep dasar pada proses filosofi  family center care, yaitu enabling dan empowering. Enabling  adalahdengan menciptakan kesempatan keluarga untuk menunjukkan kemampuan dan kompetensinya yang berguna dalam memenuhi kebutuhan anak dan keluarga.
Dukungan (empowering) menjelaskan interaksi profesional dengan keluarga dimana keluarga memerlukan perasaan aman terhadap kehidupan keluarganya dan mendukung perubahan yang positif sebagai dampak dari perilaku saling tolong menolong, memperkokoh kemampuan dan tindakan yang diberikan.
Jadi dalam pemberian asuhan keperawatan anak diperlukan keterlibatan keluarga, mengingat anak selalu membutuhkan orang tua ketika berada dirumah sakit. Keterlibatan keluarga dengan tenaga kesehatan selama anak berada di rumah sakit sangat diperlukan , karena itu menjadi dasar dalam memberikan asuhan keperawatan yang berfokus pada keluarga. Perawat dengan memfasilitasi  keluarga  dapat membantu proses penyembuhan anak pada anak yang sakit selama dirumah sakit, sehingga kebutuhan keamanan dan kenyamanan bagi keluarga dan anak diperhatikan. dan berdampak besar bagi program penyembuhan perawatan pada anak.
2.      Atraumatic care
Kemampuan dalam memberikan asuhan keperawatan yang terapoutik oleh individu melalui pelaksananaan intervensi keperawatan untuk membatasi/ mengurangi pengalaman yang tidak menyenangkan terhadap anak dan keluarga di tatanan pelayanan kesehatan.
Tujuan utama dari atraumatic care adalah do no harm yang terdiri dari
a.       mencegah/mengurangi anak berpisah dari orang tua
b.      perlindungan
c.       mencegah/mengurangi trauma fisik dan nyeri
3.       Primary Nursing
Primary nursing adalah menjaga /merawat anak selama 24 jam, jika asuhan keperawatan oleh perawat tidak berjalan. Primary nursing secara umum mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan pada anak dan menjadikan asuhan yang konsisten terhadap anak serta berfokus pada unit keluarga sebagai bagian komponen integral pada perencanaan dan pelaksanaan.
4.      Case management
Merupakan sistem pemberian  asuhan yang seimbang antara biaya dan kualitas dengan memperhatikan pembiayaan yang berlebihan. Kemampuan perawat dalam memgelola kasus dengan baik tentu berdampak pada proses penyembuhan pada anak.
PRINSIP PRINSIP KEPERAWATAN ANAK
Beberapa prinsip dasar keperawatan anak yang dijadikan sebagai pedoman dalam memahami filosofi keperawatan anak
1.      anak bukan miniatur orang dewasa tetapi sebagai individu yang unik
2.      anak sebagai individu yang unik dan mempunyai kebutuhan sesuai tahap perkembangan.
3.      Pelayanan keperawatan anak beroriantasi pada upaya pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan, bukan hanya mengobati anakl sakit.
4.      keperawatan anak merupakan disiplin ilmu kesehatan yang berfokus pada kesejahteraan anak sehingga perawat bertanggung jawab secara komprehensif dalam memberikan askep pada anak
5.      praktek keperawatan aanak mencakup kontrak dengan anak dan keluarga
6.      tujuan keparawatan anak dan remaja adalah untuk meningkatkan maturasi atau kematangan yang sehat bagi anak dan remaja sebagai mahluk biopsikososial dan spiritual dalam  kontek keluarga dan masyarakat.
7.      pada masa yang akan datang kecenderungan keperawatan anak berfokus pada ilmu tumbuh kembang.

KOMPONEN KEPERAWATAN ANAK
Komponen keperawatan anak meliputi:
1.      Asuhan keperawatan
2.      Anak
3.      Perawat
4.      Keluarga

Perawatan bukan pada anak sakit saja, tetapi secara komprehensif yang bisa memenuhi kebutuhan anak malalui keluarganya, sehingga perlu kerja sama yang harmonis antara perawat dan keluarga.
PERAN PERAWAT DALAM KEPERAWATAN ANAK
Dalam melaksanakan  asuhan keperawatan anak , perawat mempunyai peran dan fungsi sebagai perawat anak diantaranya:
1.      Pemberi perawatan
      Peran utama perawat adalah memberikan pelayanan keperawatan pada anak yang dapat dilakukan dengan memenuhi kebutuhan dasar anak seperti kebutuhan asah, asih dan asuh
2.      Sebagai advokat keluarga
      Sebagai pembela keluarga dalam beberapa hal seperti dalam menentukan haknya sebagai klien
3.      Pencegahan penyakit
      Upaya pencegahan merupakan bagian dari bentuk pelayanan keperawatan sehingga dalam melakukan asuhan keperawatan perawat harus selalu memgutamakan tindakan pencegahan terhadap timbulnya masalah baru sebagai dampak dari timbulnya penyakit.
4.      Pendidikan
      Perawat harus mampu berperan sebagai pendidik untuk memyampaikan pesan atau mengubah perilaku pada anak dan keluarga malalui pendidikan kesehatan khususnya dalam keperawatan.
5.      Konseling
      Upaya perawat dalam memberikan waktu untuk berkonsultasi terhadap masalah yang dialami oleh klien dan keluarga. Konseling ini bis memberikan kemandirian keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan
6.      Kolaborasi
      Merupakan tindakan kerjasama dalam menentukan tindakan yang akan dilaksanakan oleh perawat dengan team kesehatan lain
7.      Pengambil keputusan etik
      Dalam memgambil keputusan, perawat mempunyai peran sangat penting karena selalu berhubungan dengan anak kurang lebih 24 jam.
8.      Peneliti
Sebagai peneliti harus melakukan kajian –kajian keperawatan anak, yang dapat dikembangkan untuk perkembangan teknologi keperawatan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan nak.

PERSPEKTIF PERAWATAN ANAK
PROGRAM DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KESEHATAN ANAK.
Tujuan pembangunan nasional dibidang kesehatan terutama ditujukan untuk:
1.      Penurunan angka kematian bayi dan perinatal
2.      Penurunan angka kematian balita
3.      Penurunan angak kesakitan anak usia sekolah dan remaja
4.      Peningkatan derajat kesehatananak secara keseluruhan yang akan menjamin proses tumbuh kembang anak secara optimal menuju generasi muda yang sehat sebagai sumber daya pembangunan.
  1. Upaya pembinaan kesehatan anak mencakup pemenuhan kebutuhan primer sejak didalam kandungan sampai remaja dengan mengkaji tumbuh kembang anak, pemberian makanan bergizi pada anak, penyuluhan kesehatan keluarga, asuhan keparawatan mulai dari bayi sampai remaja
  2. Untuk mencapai hal tersebut diatas perlu adanya peningkatan kemampuan tenaga kesehatan khususnya bidang yang berkwalitas dan merata ditanah air. Bidan mempunyai peranan dan tanggung jawab yang besar  dalam bidang kesehatan ibu dan anak. Untuk itu sejak dini siswa bidan harus dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup. Hal ini dimulai dari para pendidik kesehatan yang cukup ditunjang dengan kepustakaan yang memadahi.
  3. Perlu diyakini bahwa tim perawatan mampu mengembangkan dan mengkoordinasikan pola perawatan anak yang dapat mengisi kebutuhan hubungan keluarga dan anak, sehingga perawat akan sadar tentang pola hubungan keluarga dan anak, tanggap apabila keluarga membutuhkan dukungan moral. Berdasarkan hal tersebut, maka perawat profesional dapat menyediakan bantuan inter disiplin dalam rangka perawatan anak terpadu dan menyeluruh serta berusaha menyediakan sumber daya yang tersedia dalam pelayanan kesehatan dan masyarakat untuk memungkinkan peningkatan pelayanan perawatan anak yang bermutu.
  4. Pelayanan perawatan dapat tersedia melalui tim perawatan yang terpadu dimana tiap anggota tim perlu diberi kesempatan meningkatkan pengetahuan dan kaeterampilannya dalam, bidang perawatan anak. Anggota tim harus bertanggung jawab untuk memeastikan terlaksananya asuhan keperawatan anak yang perpusat pada keluarga.

ISSUE DAN KECENDURUNGAN DALAM KEPERAWATAN ANAK
Masalah kesehatan anak ditiap negara berbeda karena perbedaan lingkungan yang mempengaruhinya.Namun dalam garis besarnya, masalah tersebut diseluruh dunia dapat dikelompokkan menjadi dua katagori, yaitu masalah kesehatran anak yang terdapat dinegara maju dan masalah kesehatan anak dinegara sedang berkembang.
Bila ditinjau dari indikator kesehatan, maka masalah utama kesehatan anak di Indonesia adalah masih tingginya morbiditas dan mortalitas pada golongan bayi dan balita.Penyebab utamanya adalah lingkungan yang kurang menunjang, mutu pelayanan kesehatan ayang rendah dan keadaan sosial/ekonomi/budaya masyarakat yang kurang memadahi.Sebagian besar penyebabnya bukan bidang kedokteran, tetapi merupakan bidang kesehatan masyarakat.
Untuk mengevaluasi pengaruh penyakit terhadap kesehatan masyarakat dan keberhasilan upaya kesehatan, diperlukan sejumlah parameter atau indikator kesehatan. Diantara indikator dasar yang berkaitan erat dengan kesehatan anak adalah AKB (Angka Kematian Bayi), GNP (Gross National Product) perkapita, umur harapan hidup, tingkat pendidikan teruatama perempuan.
Untuk  mengatasi masalah kesehatan masyarakat, termasuk masalah kesehatan anak pada tahun 1982 oleh pemerintan telah disusun tatanan atau program menyeluruh khusus untuk bidang  kesehatan yang dikenal sebagai Sistem Kesehatan Nasional (SKN). Tujuan dan sasaran SKN :
1.       Peningkatan kemampuan masyarakat yaitu menolong diri sendiri dalam menghadapi masalah kesehatan yang dijimpai sehari-hari.
2.       Peningkatan mutu lingkungan hidup .
3.       Peningkatan status gizi masyarakat.
4.       Pengurangan kejadian Morbiditas dan Mortalitas.
5.       Pengembangan keluarga sejahtera.

Kedalam SKN ini telah dimasukkan dasar pelayanan kesehatan primer (Primary heald care) yang dicanangkan di Alma Ata tahun 1978 dan telah disepakati oleh seluruh anggota WHO.
Delapan unsur pokok bidang kesehatan primer:
1.      Penyuluhan kesehatan.
2.      Gizi
3.      sanitasi dasar dan air bersih.
4.      KIA dan KB.
5.      Imunisasi terhadap enam penyakit utama.
6.      Pencegahan dan  pengelolaan penyakit endemik.
7.      Pengobatan penyakit yang umum dijumpai.
8.      Tersedianya obat yang esensial.

Daftar Pustaka

Dep. Kes. RI (2000), Program Kesehatan Ibu dan Anak, Jakarta
Engel Joice, Alih Bahasa : Teres, (1999), Pengkajian Pediatrik, Edisi II, Jakarta EGC.

Morgan K (1999), Pediatric Care Plan, St. Louis, Springhause.
Rosa M Sacharin (1996), Prinsip Keperawatan Pediatric, Edisi II. Jakarta EGC
Wong, Donna L, (1999) Nursing Care of Infant ang Children, ST Louis, Mosby
Wong, Donna L, (2003), Essensial of Pediatric Nursing 6 th edition, St.Louis Moaby

Wong, Donna L,(2000), Clinical Manual of Pediatric Nursing,St.Louis Mosby